sWara45 | Tangerang – Peredaran minuman keras (miras) di Desa Cempaka, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, kian meresahkan. Ironisnya, aktivitas penjualan miras yang berkedok warung jamu ditemukan hanya beberapa meter dari Kantor Desa Cempaka, bahkan tersebar di kanan-kiri jalan utama kawasan tersebut.
Seorang warga berinisial RS mengaku kerap melihat praktik penjualan miras secara terbuka di lokasi itu.
“Iya, di situ lengkap, Pak. Ada berbagai merek seperti Iceland, Newport, Anggur Putih, Atlas, Rajawali, sampai Anggur Merah. Kami biasa beli di warung dekat kantor desa itu,” ungkap RS kepada wartawan, Selasa (19/8/2025).
RS menambahkan, penjualan miras bahkan meningkat saat momen perayaan 17 Agustusan.
“Sampai penjualnya bilang, Alhamdulillah bang, pas malam 17 Agustusan rame, omset naik,” tutur RS menirukan.
Selain di dekat kantor desa, aktivitas serupa juga ditemukan di depan Gerbang Perumahan Puri Harmoni 2 Cisoka. Modus yang digunakan sama, yakni berkedok warung jamu dengan menjual berbagai jenis minuman keras.
Aktivis lingkungan Alek Purnama menilai maraknya peredaran miras di Cisoka mencoreng identitas wilayah yang dikenal luas sebagai kota santri.
“Ini jelas mencemari lingkungan, apalagi Cisoka identik dengan dunia pesantren dan pendidikan agama. Sangat tidak pantas jika peredaran miras bebas di tempat ini,” tegasnya.
Lebih jauh, Alek menduga adanya pembiaran atau bahkan “main mata” dengan aparat penegak hukum (APH) setempat sehingga penjualan miras bisa berjalan tanpa hambatan.
“Kalau dibiarkan, ini bukan hanya merusak generasi muda, tapi juga merusak nama Cisoka sebagai kota santri. Kami mendesak aparat segera menindak tegas praktik ini,” pungkas Alek.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak kepolisian maupun aparat pemerintah desa setempat belum memberikan keterangan resmi terkait maraknya dugaan peredaran miras tersebut.
Fenomena ini menimbulkan keprihatinan banyak pihak, karena di satu sisi Cisoka menjadi pusat pendidikan agama dengan ratusan santri yang menimba ilmu, namun di sisi lain peredaran miras justru berlangsung bebas di lingkungannya.
(DEDI)

