Nasional

Pemimpin Turki Mengakui Adanya Masalah dengan Upaya Bantuan Gempa

×

Pemimpin Turki Mengakui Adanya Masalah dengan Upaya Bantuan Gempa

Sebarkan artikel ini
Poto : Seorang anak melihat pasca gempa mematikan di Kahramanmaras, Turki, 8 Februari 2023. Dok : REUTERS/Suhaib Salem.
Poto : Seorang anak melihat pasca gempa mematikan di Kahramanmaras, Turki, 8 Februari 2023. Dok : REUTERS/Suhaib Salem.

SWARA45.COM | KAHRAMANMARAS/ANTAKYA TURKI – Presiden Tayyip Erdogan mengakui kesalahanya terkait lambatnya tanggapan awal pemerintahnya terhadap gempa dahsyat di Turki selatan, Rabu (8/2/2023).

Erdogan mengatakan dalam kunjungan ke zona bencana gempa bumi berjanji tidak akan ada yang kehilangan tempat tinggal dan dirinya akan terus berupaya memberikan bantuan terhadap korban bencana gampa bumi tersebut.

AKRILIK/PAPAN TANDA CETAK UV
deskripsi
AKRILIK/PAPAN TANDA CETAK UV

Diketahui, jumlah korban tewas akibat gempa bumi di Turki dan negara tetangga Suriah tersebut naik hingga 11.000 Jiwa.

Namun di seantero Turki selatan, orang-orang mencari perlindungan sementara semakin hari semakin bertambah.

Ditambah lagi dengan cuaca musim dingin yang membekukan.

Mereka menunggu dalam kesedihan di tumpukan puing-puing reruntuhan bangunan tempat keluarga dan mungkin teman-teman mereka yang terkubur.

Tim penyelamat masih menggali rumah atau bangunan yang runtuh akibat gempa bumi tersebut dan beberapa orang ditemukan hidup dan beberapa orang lainnya ditemukan telah meninggal dunia.

Ratusan bangunan di kota-kota tersebut banyak yang runtuh hampir merata dengan dengan tanah.

Mungkin Korban tewas dari kedua negara akibat gempa bumi tersebut diperkirakan akan bertambah.

Karena saat gempa melanda orang – orang dikota tersebut banyak yang sedang tertidur.

Di kota Antakya, Turki, puluhan jenazah, terlihat diselimuti mengunakan seprai dan lainnya di kantong jenazah, dibariskan di tanah di luar rumah sakit.

Orang – orang di Turki selatan dan di Suriah menghabiskan malam kedua dalam cuaca dingin yang membekukan.

Sebagian orang di zona bencana tersebut telah tidur di mobil mereka atau di jalan-jalan mengunakan selimut dan perlengkapan seadanya.

Mereka takut jika kembali ke gedung atau ditempat kediaman mereka gempa yang berkekuatan 7,8 SR – yang paling mematikan di Turki sejak 1999 – dikhawatirkan kembali datang.

“Di mana tendanya, di mana truk makanannya?” kata Melek, (64) di Antakya.

Dia mengatakan dia belum melihat tim penyelamat.

“Kami selamat dari gempa, tapi kami akan mati di sini karena kelaparan atau kedinginan di sini.”ucap Malek.

Korban tewas naik menjadi 8.574 di Turki pada Rabu, (8/2/2023).

Pihak berwenang Turki merilis video korban yang diselamatkan, termasuk seorang gadis muda dengan piyama.

Selanjutnya seorang lelaki tua yang tertutup debu, dengan sebatang rokok yang tidak menyala terjepit di puing – puing reruntuhan bangunan.

Di Aleppo Suriah, staf di rumah sakit Al-Razi merawat seorang pria dengan mata memar mengatakan lebih dari selusin kerabat termasuk ayah dan ibunya tewas ketika bangunan tempat mereka berada runtuh.

“Kami berusia 16 tahun dan 13 dari kami meninggal. Adikku, keponakan laki-laki berusia satu setengah tahun dan aku keluar dari rumah,”Alhamdulillah,” katanya.

“Ayah saya, ibu saya, saudara laki-laki saya, istri dan keempat anaknya. Istri dan dua anak saudara laki-laki saya yang keluar bersama saya juga meninggal,”tambahnya.

Penerjemah : Afrizal
Sumber : Reuters

Berikan Komentar