KETIKA BANTEN MEMILIKI PERADABAN YANG GEMILANG Banten Sejarah dan Peradabannya Di Abad X- XVII Claude Guillot - Swara45.Com    

Home / Tangerang

Sabtu, 6 Juli 2019 - 14:42 WIB

KETIKA BANTEN MEMILIKI PERADABAN YANG GEMILANG Banten Sejarah dan Peradabannya Di Abad X- XVII Claude Guillot

KETIKA  BANTEN MEMILIKI PERADABAN YANG GEMILANG  Banten Sejarah dan Peradabannya  Di Abad X- XVII Claude Guillot

KETIKA BANTEN MEMILIKI PERADABAN YANG GEMILANG Banten Sejarah dan Peradabannya Di Abad X- XVII Claude Guillot

Suara45, Banten adalah wilayah yang tidak habis-habisnya menjadi bahan kajian penelitian sejarawan maupun arkeolog. Menurut peneliti asal Prancis Claude Guillot dalam berbagai segi memang Banten adalah sebuah rujukan yang cocok untuk analis sejarah nusantara.

Kesultanan Banten di satu sisi mempunyai kharakteristik yang sama dengan kesultanan-kesultanan yang ada di Sumatra hingga Semenanjung Melayu, tetapi di sisi lain ia juga mengadopsi tradisi kerajaan Jawa.

Claude mengungkapkan bahwa peradaban Banten bukan hanya sebuah Kesultanan Islam yang didirikan Hasanuddin tetapi kelanjutan peradaban sebelumnya di Banten Girang.

Baca Juga..!!  Operasi Gabungan, Kawal Perbup Nomor 47/2019
Baca Juga..!!  Penjemputan Pasien Covid-19 di Jeungjing Di Pantau Koramil 13 / Cisoka.

Negara ini yang pertama ini bersifat Jawa sekitar 930 hingga 1030 menggantikan Kerajaan Taruma yang sudah musnah.

Bukti adanya peradaban tua adalah arca Siwa Mahadewa, Durga, Betara Guru, Ganesa dan Brahma segaya dengan arca-arca yang ada di Jawa Tengah yang berasal pada abad ke 10.

Arca-arca ini ditemukan di Gunung Pulasari, Pandeglang, sempat menjadi pajangan rumah Asisten Residen Belanda pada paruh ke dua abad ke 19 dan kini disimpan di Museum Nasional.

Claude menyebutkan bukti lain, yaitu Prasasti kebun Kopi yang 932 M dalam Bahasa Melayu tentang kembali bertahtanya Raja Sunda.

Seorang pedagang asal Cina Zhao Paugua awal abad ke 13 menyebutkan Sin-to berarti Sunda untuk sebuah kota di kawasan barat Jawa tempat lada ditanam.

Baca Juga..!!  Tegas, Sanksi Pus Up Operasi Yustisi Dan PPKM Koramil 08/Kronjo di Terapkan
Baca Juga..!!  Polresta Tangerang dan Forkopimda Musnahkan 4 Kg Narkotika Jenis Sabu

Pada bagian lain Claude cukup bagus mendeskripsikan peradaban masyarakat banten ketika Sultan Ageng Tirtayasa memerintah antara 1651 hingga 1682.

Sebagai sebuah kota Banten terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian tengah atau pusat kota dikelilingi banteng, hanya didiami oleh orang banten, serta bagian timur dan barat yang didiami oleh orang asing. Pelebuhannya pun ada dua, yaitu pelabuhan internasional dan pelabuhan lokal di Karangantu.

Bangsa asing yang mendiami Banten berasal dari lima bangsa Eropa, yaitu Belanda, Inggris, Portugis, Prancis dan Denmark.

Sementara orang Asia yang berdiam di kawasan itu berasal dari Tionghoa, Tamil, Moor, hingga orang Makassar yang datang berlindung ke Banten setelah negerinya diduduki Belanda.

Claude pada 1678 jumlah penduduk Banten masa itu paling tidak sekitar 150 ribu jiwa termasuk wanita, anak-anak dan jompo.

Buku ini tidak saja mendeskripsikan tata kota Banten pada abad ke 17 tetapi juga gaya hidup di lingkup kesultanan itu.

Di sekitar pemukiman orang asing ini ada tempat hiburan, seperti tempat pembuatan arak yang disuling untuk kebutuhan orang Eropa yang disebut rumah kabaret, pertunjukkan wayang, sandiwara hingga peluncuran kembang api.

Baca Juga..!!  Kapolda Banten Dukung Gubernur, Perpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Baca Juga..!!  Kecamatan Solear Kab Tangerang Lantik Empat PJS Kepala Desa

Sementara Sultan Ageng sendiri bersadarkan sumber dari ahli bedah dari Demark bernama Cortumunde menuliskan hal menarik tentang bagian kota yang berdekatan dengan wilayah perdesaan:

Sultan memiliki sebuah kebun besar dan elok, kaya dengan jenis buah-buahan yang dapat dibayangkan serta tanaman-tanaman langka dan tepat di sebelahnya terdapat rumah pemandian (hal. 76).

Menurut Claude dalam bukunya ini Sultan Ageng memiliki kebun binatang setidaknya berisi rusa dan banteng. Penguasa Banten ini juga gemar berkuda dan memelihara macan.

Claude menyebutkan soal pembangunan mesjid yang kemungkinan dibangun arsitek berkebangsaan Mongol bernama Cek ban Cut yang masuk Islam.

Di dekat mesjid ini ada Kadi begelar Kiyai Fekih menjabat Menteri Kehakiman untuk menangani pertengkaran antar penduduk Banten.

Di sebelah utara mesjid terdapat gudang beras milik kota. Adanya gudang beras ini membuktikan bahwa sultan mempunyai kepedulian pentingnya ketahanan pangan.

Banten pada 1678 adalah peradaban lengkap. Negeri ini terbagi dalam sejumlah kampung yang masing-masing dikepalai seorang bangsawan.

Setiap bangsawan punya istana di kampungnya didampingi ulama, penjaga, musisi dan penari.

Jumlah penduduk di kampung antara 200-2000 yang menentukan kekuasaan seorang bangsawan. Banten mempunyai pasar yang buka sehari penuh dan ada yang separuh hari.

Pembahasan soal 1678 ini jadi tulisan tersendiri bagi Claude karena sejak 1670 adalah masa cemerlangnya Banten hingga perang saudara pecah antara Sultan Ageng dan putra mahkotanya sendiri.

Baca Juga..!!  Maksimalkan Kinerja Tim Tindak PPKM, Polresta Tangerang Terima Hibah 10 Unit Sepeda Motor
Baca Juga..!!  Danramil 04/Cikupa Berikan Masker Bagi pelanggar Yustisi

Pada 1678 itulah Sultan Ageng yang disebut sebagai Sultan Tua belum melimpahkan kekuasaan kepada putra mahkotanya Sultan Haji yang dipanggil Sultan Muda.

Golongan Bangsawan dan Ponggawa

Pada tulisan lain dalam buku ini Claude juga mengungkapkan persoalan politik di Banten sebagai akibat polarisasi apa yang ia sebut sebagai golongan bangsawan dan ponggawa (pejabat pemerintah) yang berhubungan dengan perdagangan.

Golongan bangsawan ini disebutnya mempunyai pretise tinggi di kalangan masyarakat dan lebih mahir dalam berperang.

Sementara ponggawa kalau dilihat dari jumlah pejabatnya yang bergelar tumegung dan laksamana memegang posisi seperti syahbandar, kepala timbang dan sebagainya diperkirakan sekitar 20.

Namun mereka didukung oleh para pedagang lain yang berjumlah ribuan. Kebanyakan pejabat ini menurut Claude dijabat oleh orang asing seperti orang Tamil.

Kedua golongan ini mempunyai visi berbeda dalam politik ekonominya. Golongan bangsawan lebih menyukai ekonomi terpimpin, di mana negara memegang monopoli perdagangan, sementara golongan ponggawa mendukung perdagangan bebas.

Tentu saja golongan ponggawa didukung oleh para pedagang asing. Pada waktu itu komoditi yang paling bernilai adalah lada.

Baca Juga..!!  Polres Tangsel Tangkap Dua Wanita Pengedar Sabu
Baca Juga..!!  Kemarau Panjang, Warga Desa Cijeruk Mekar Baru Harapkan Bantuan Air Bersih

Bangsa Eropa seperti Inggris sampai mempunyai loji sendiri untuk kepentingan lada ini.

Scott, salah seorang pedagang Inggris yang menetap pada 1603-1605 menggambarkan Kawan-kawan utama dari orang Inggris adalah “”the sabyndar, the admiral (tumenggung), the rich chyness” artinya pedagang-pedagang kaya dan sejumlah pegawai pemerintah yang menarik keuntungan dari perdagangan.

(hal.122) sementara Scott menggambarkan para bangsawan sebagai a sort for beggerrly poor men.

Dia menuding para bangsawan menjadi pembesar di Banten karena bapak mereka dan bukan karena kekayaan atau jabatan.

Perbadaan antara kedua golongan ini beberapa kali menyebabkan perang saudara.

Pada 1596 terjadi perubahan penting di Banten. Sultan Banten Maulana Muhammad mati muda ketika armada lautnya mengepung Palembang.

Peristiwa ini mengakhiri politik ekspansionis Banten.

Sementara orang Belanda mulai memaksakan perdagangan ekonominya. Putra mahkota Abdulmufakir bayi yang baru lahir memaksa Banten memasuki zaman wali raja.

Baca Juga..!!  Polresta Tangerang dan Forkopimda Musnahkan 4 Kg Narkotika Jenis Sabu
Baca Juga..!!  Danramil 04/Cikupa Berikan Masker Bagi pelanggar Yustisi

Pejabat di bawah raja adalah dua perdana menteri.

Untuk urusan dalam dijabat oleh Patih Jero dan urusan luar oleh Patih Jaba.

Perdana Menteri urusan orang dalam ini berasal dari golongan bangsawan lebih tinggi pangkatnya, namun parkteknya kurang berkuasa.

Pada umumnya anggota keluarga raja, menyelesaikan urusan kaum bangsawan dan penasehat raja. Urusannya dalam istana dan keluarga raja.

Patih Jaba meskipun banyak hak istimewa, tidak lebih dari golongan priyayi atau pegawai pemerintah yang disebut ponggawa (pegawai pemerintah).

Ia bergelar tumenggung, kadang ditambah gelar Laksamana.

Ia mengawasi semua urusan pemerintah, termasuk pejabat paling tinggi dalam bidang ekonomi seperti syahbandar (kiyai Syahbandar), kepala pabean (kiyai tandha), kepala timbangan (Kiayi Juru Dacin) dan biasanya orang asing.

Pada 1596 itu Perdana Menteri Urusan Luar ini dengan bantuan kadi yang menjadi wali.

Kebetulan Patih Jaba ini adalah orang yang berpengalaman.

Dia memimpin serangan dari darat melalui Lampung, ketika Maulana menyerang dari laut. Patih Jaba ini menikah dengan puteri Maulana Hasanuddin.

Mulanya tidak terjadi persoalan. Sekalipun Patih Jaba ini dari pihak ponggawa, ia orang berkepribadian kuat dan masih keturunan bangsawan.

Baca Juga..!!  Tegas, Sanksi Pus Up Operasi Yustisi Dan PPKM Koramil 08/Kronjo di Terapkan
Baca Juga..!!  Penjemputan Pasien Covid-19 di Jeungjing Di Pantau Koramil 13 / Cisoka.

Dia tidak ragu-ragu memenjarakan sejumlah orang Belanda yang tidak taat pada peraturan pada 1596.

Dua tahun berikutnya ia bereaksi keras terhadap serangan armada Portugis dipimpin Lourenco de Brito.

Sejumlah orang Portugis ditawan dan 3 kaptennya dibunuh.

Pada 1602 Patih Jaba wafat. Menurut keterangan orang Belanda bernama Rochus Pieterzoon kewalian mulanya dipercayakan pada saudara laki-laki almarhum, tetapi pengangkatannya menyebabkan huru-hara di kota Banten.

Para pangeran menentang pengambil alihan kekuasaan oleh para Ponggawa karena saudara laki-laki Patih Jaba itu bukan keturunan bangsawan. Para pangeran ini menang pada 17 November tahun itu juga wali raja ini dipecat.

Penggantinya jatuh pada Pangeran Chamara yang ternyata kurang berwibawa. Para punggawa tidak menyukainya.

Ketika wali raja ini memaksakan aturan baru pada pedagang Inggris, para punggawa menasehati loji Inggris untuk mengabaikannya.

Pelaut-pelaut Belanda yang tidak suka pada keputusan tertentu pemerintah pada pesta mabuk-mabukan menembakan meriam ke arah istana.Wali raja tidak bereaksi.

Para pangeran juga tidak menghormati wali raja yang baru itu dan bertindak semaunya. Mereka menyerang para pedagang yang didukung para punggawa dipimpin Pangeran Mandalika pada September 1604. Pangeran ini saudara laki-laki dari almarhum raja. Dia pangeran panglima perang dan pengerah pasukan utama. Jung-jung pedagang ditangkap beserta muatannya.

Baca Juga..!!  Operasi Gabungan, Kawal Perbup Nomor 47/2019
Baca Juga..!!  Maksimalkan Kinerja Tim Tindak PPKM, Polresta Tangerang Terima Hibah 10 Unit Sepeda Motor

Aksi anarkis ini dianggap keterlaluan bagi wali raja dan menuntut Mandalika mengembalikan jung-jung dan muatannya.

Dia meminta bantuan pangeran Jakarta yang membawa 1500 orang bersenjata disusul 1000 prajurit lainnya. Pangeran Mandalika ditangkap dan diasingkan bersama 30 pengikutnya ( hal. 117).

Sayangnya konflik tidak selesai. Para ponggawa belum puas dan mengatur sebuah komplotan yang membunuh Pangeran Chamara dan seorang juru tulisnya.

Kudeta ini ditenatng oleh para bangsawan. Di bawah pimpinan Pangeran Ranamanggala mereka menyerang balik. Dua pimpinan Ponggawa terbunuh. Pangeran Jakarta akhirnya menjadi penengah.

Pangeran ini berhasil menciptakan perdamaian. Para ponggawa diminta mengasingkan diri pada Februari 1609 menuju Jakarta bersama 6-8 ribu

Ranamanggala menerapkan peraturan perdagangan baru. Salah satu keputusan pertama, menaikkan secara seksama berbagai pajak, bea dan cukai untuk semua traksaksi perdagangan.

Selama ini para ponggawa berhasil mempertahankan perpajakan rendah guna menarik pedagang-pedagang dan dengan demikian mereka menarapkan politik liberal. Sebelum 1609 pasar bebas yang menaati hanya pada hampir satu-satunya peraturan: permintaan dan penawaran.

Penguasa baru ini bertindak keras. Pada 1612 Ranamanggala memerintahkan membongkar gudang besar yang dibangun dari buat oleh orang Belanda yang dicurigai dipakai untuk tujuan militer.

Orang Inggris dan Belanda kemudian meninggalkan Banten. Orang Belanda kemudian mendirikan Batavia. Kepergain mereka dan akibat buruk bagi banten tidak merubah keyakinan Ranamanggala.

Dia mempertahankan kekuasaan negara dan memutuskan menghapuskan seluruh perdagangan dengan melarang budidaya lada.

Politik ini menimbulkan kemarahan besar orang Tionghoa dan akibat tekanan mereka pada 1624, Ranamanggala menyerahkan kekuasaannya pada putra mahkota yang lebih luwes dan waktu itu sudah dewasa.

Politik Pangan Sultan Ageng Tirtayasa, serta Sosok Putra Mahkota Sultan Haji

Hal lain yang cukup menarik diungkapkan Claude dalam buku Banten: Sejarah dan Perdaban Abad ke X-XVII ini adalah ai mengkritisi bahwa sebagian besar studi cenderung menggambabarkan Banten sebagai negara kota, padahal wilayahnya terbentang dari Tangerang hingga Tulangbawang, dari Pelabuhan Ratu hingga Silebar.

Baca Juga..!!  Kapolda Banten Dukung Gubernur, Perpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Baca Juga..!!  Kecamatan Solear Kab Tangerang Lantik Empat PJS Kepala Desa

Banten juga adalah negara pertanian. Cukup konsisten dengan pernyataannya bahwa Banten itu juga ada pengaruh budaya Jawa yang cenderung menyukai negara pertanian.

Proyek-proyek pertanian zaman pemerintahan Sultan Ageng spektakuler. Di antaranya pada September 1659, Kiayi Arya Mangunjaya Menteri negara Sultan Ageng mengerakan semua kepala wilayah kerajaan dan memerintahkan setiap kepala daerah untuk setiap orang dalam wilayahnya menanam sebanyak 100 batang kelapa muda. Pohon-pohon itu harus ditanam di dekat sungai Untung Jawa (Cisadane) artinya dekat perbatsan Batavia. Sekitar 5000 lelaki sehat dipindahkan ke perkebunan baru itu, artinya luas yang ditanami itu mencapai paling tidak 5 ribu Ha.

Contoh lain yang menarik adalah pada 1670-1672 pemerintah Banten menggali terusan baru antara Pontang dan Tanara di tepi laut ke daratan untuk merubah tanah Tanaran yang terlantar.

Kiayi Ngabehi Wangsanala sebagai Ipar lelaki Sultan sebagai pimpinan proyek. Sekitar 16 ribu orang terlibat dalam proyek ini, 200 di antaranya bekas warga Batavia.

Dalam sbeulan seperlima terusan sudah digali. Proyek ini sempat terhenti karena musim hujan. Sekitar 10 ribu orang menetap di kawasan ini untuk membangun.

Terusan dimulai dari Tanjung di Timur Teluk Banten panjangnya 9 km lebar 6 meter dan dalam 4 meter. Dibangun 50-60 petak, mempraktekkan masyarakat pertanian sebenarnya.

Cerita yang menarik ialah Sultan digambarkan menggunakan para pecandu sebagai tenaga kerja untuk hukuman. Kapal dagang Eropa kerap memasukan candu ke Jawa yang sebetulnya membawa masalah.

Di Banten dilarang keras. Mereka yang kedapatan menjadi pecandu ini dihukum dengan jadi tenaga kerja.

Tenaga lain yang membantu terusan ini adalah orang Makassar yang melarikan diri akibat negeri mereka diperintah Belanda.

Orang-orang Makasar ini dipimpin oleh beberapa Kraeng. Mereka membantu membuka hutan.

Sayangnya dalam bukunya Claude tidak banyak mengungkapkan perang saudara antara ayah dan anak ini.

Apakah ini berkaitan dengan terbelahnya ponggawa dan bangsawan yang terjadi masa sebelumnya? Cuma saya terkesan setelah membaca buku ini Sultan Ageng sebetulnya menganggap perdagangan juga hal yang penting selain pertanian.

Sebaliknya Claude melukiskan kepribadian Sultan Haji’, Sang Putra Mahkota sebagai seorang yang tidak mampu bergaul, kurang kasih sayang dan pengakuan dari orang lain. Ia menyukai kekejaman itu sendiri, suatu hal yang membuat takut semua orang yang mendekatinya.

Baca Juga..!!  Kemarau Panjang, Warga Desa Cijeruk Mekar Baru Harapkan Bantuan Air Bersih
Baca Juga..!!  Polres Tangsel Tangkap Dua Wanita Pengedar Sabu

Namun yang menarik diungkapkan Claude dibandingkan ayahnya sebetulnya Sultan Haji bercita-cita ingin menegakkan hukum syariah menjadi pilar ideologinya disamping nasionalisme.

Dibutuhkan campur tangan ayahnya untuk membatalkan perintah yang diberikan kepada rakyat, terutama kaum perempuan untuk mengenakan pakaian bergaya Arab.

Sultan Haji bercita-cita menjadikan Banten sebagai negara Islam sepenuhnya, yang berimbas diusirnya semua orang asing, terutama yang tidak beragama Islam dan khususnya orang Tionghoa yang sangat ia benci dengan sengit, meskipun mereka telah menjadi muamalaf, gara-gara kekuasaan yang telah mereka dapatkan di negeri ini. (hal.213)

Menurut Claude ketika Sultan Haji menjadi sewenang-wenang terhadap orang Tionghoa, Sultan Ageng mengangkat senjata mengusir putranya sendiri dari ibukota.

Sultan Ageng mengangkatan adiknya (sejarah mengenalnya sebagai Pangeran Purbaya) sebagai penggantinya. Sultan Haji terkepung di benteng pertahanannya dan justru memohon bantuan Belanda.

Dalam buku ini jalannya perang saudara yang melibatkan VOC Belanda ini tidak dikupas karena mungkin anglenya (sudut pandang) dari Claude adalah perkembangan peradaban.

Saya terkesan bahwa VOC Belanda itu justru menindas pemerintah yang mendukung kemajemukan masyarakat, cinta damai, serta punya toleransi yang tinggi dan justru memihak penguasa yang rasis dan zhalim asal itu menguntungkan mereka.

Sejarah kemudian mencatat bahwa sejak Banten jatuh ke tangan VOC, monopoli dalam bentuk baru berjalan dan lebih kejam.

Banten dan Dunia Asing

Mungkin karena sudut pandangnya tentang perkembangan perdaban, Claude banyak mengupas sudut pandang orang asing melihat Banten.

Ada tulisan tentang hubungan banten dengan teluk Benggala pada abd ke 16 dan ke 17, Orang Portugis di banten 1511-1682, petualangan seorang pedagang berkebangsaan Prancis bernama Jean Baptise de Guilhen 1634-1709, seorang pedagang Inggris bernama Scott yang tinggal di Banten pada 1603-1605.

Baca Juga..!!  Tegas, Sanksi Pus Up Operasi Yustisi Dan PPKM Koramil 08/Kronjo di Terapkan
Baca Juga..!!  Operasi Gabungan, Kawal Perbup Nomor 47/2019

Ada hal yang menarik bahwa Sultan Ageng pernah mempunyai seorang syahbandar keturunan Tionghoa bernama Kaytsu untuk memulihkan perdagangan internasional.

Syahbandar ini membuat sultan membuka hubungan dagang ke sejumlah negara, antara lain dengan mengirimkan kapal niaga. Di masa pemerintahan Sultan Ageng dijalin hubungan kembali dengan Benggala, Cina, Vietnam, Taiwan bahkan Jepang.

Claude memberikan data yang menakjubkan bahwa 1675 kapal keluar masuk di Banten menuju Teluk Benggala antara lain 2 kapal Inggris, 2 kapal Portugis, 4 kapal Denmark, 1 kapal Moor dan 1 kapal milik Banten sendiri.

Pada tahun berikutnya berlalu lalang satu kapal dari Moor, 3 kapal Portugis, 1 kapal Denmark, 2 kapal Banten, 1 kapal Inggris dan 1 kapal dari Belanda (lampiran halaman 262).

Pada bagian penutup Claude menulis soal citra Banten dalam kesusasteraan Inggris, Prancis dan Belanda.

Di antara karya dijadikan contoh oleh Claude, saya tertarik pada karya Onno Zwier van Haren, sastrawan Friesland yang berjudul Agon, Sulthan van Bantam (1769). Karya ini merupakan sandiwara lima babak yang terbit di Belanda tahun 1769 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis pada 1770.

Dengan latar belakang perebutan Banten oleh Belanda pada 1682. Dikisahkan Agon (maksudnya Sultan Ageng) yang sudah tua berniat turun tahta ingin membagi kerajaan antara dua putranya, Abdul si Sulung (Sultan Haji) dan adiknya Hasan (mungkin Pangeran Purbaya). Abdul ini meminta bantuan bealnda untuk merebut kekuasaan.

Perentara bantaun ini seorang Belanda (menurut Claude kemungkinan bernama Steenwijk) yang dinobatkan menjadi pangeran oleh Abdul ini. Dalam sandiwaranya ini Van Haren mencitrakan Banten sebagai negara yang patut dihormati.

Sementara Belanda digambarkan sebagai pihak yang tamak yang kebetulan punya kelebihan militer (halaman 392).

Tentunya Banten :Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII juga mempunyai kekurangannya. Buku ini memang begitu padat, terutama data-data yang berasal dari sumber asing.

Bahkan sumber asing ini memberikan warna yang cukup dominan.

Baca Juga..!!  Polres Tangsel Tangkap Dua Wanita Pengedar Sabu
Baca Juga..!!  Danramil 04/Cikupa Berikan Masker Bagi pelanggar Yustisi

Sayangnya, penulis tidak banyak membandingkan atau melengkapinya dengan sumber-sumber lokal atau sumber lainnya yang sezaman, misalnya surat-surat kesultanan Banten.

Cukup banyak lubang yang ditinggalkan karena memang sudut pandangnya lebih pada soal perdaban.

Selain soal jalannya perang saudara antara Sultan Ageng dan Sultan Haji dan bagaimana kaitannya dengan ponggawa dan bangsawan yang sudah dikupasnya, Claude juga tidak menyinggung bagaimana sikap Ranamanggala ketika VOC merebut Jakarta pada 1619? Bukankah waktu itu Jakarta adalah wilayah Banten? Lalu apa sikap para ponggawa dan bangsawan? Bukankah ponggawa yang diasingkan itu masih ada di Jakarta?

Secara keseluruhan buku ini melengkapi sejarah Indonesia abad ke 16-17 dan banyak mengungkapkan hal-hal yang baru. Bagi peminat sejarah patut mengapresiasikannya.

Share :

Baca Juga

Berprestasi, 8 Personel Satlantas Polresta Tangerang Dapat Penghargaan

Berita

Berprestasi, 8 Personel Satlantas Polresta Tangerang Dapat Penghargaan
Kurang Pengawasan, Pekerjaan Di Kecamatan Sukamulya Di Duga Bermutu Rendah

Insfratruktur

Kurang Pengawasan, Pekerjaan Di Kecamatan Sukamulya Di Duga Bermutu Rendah

Tangerang

Ormas Pemuda Pancasila Salurkan Bantuan Covid-19 Ke 29 Kecamatan Di Kabupaten Tangerang

Tangerang

Pelanggar Operasi Yustisi di Mauk Terus Menurun
Camat Rahyuni : Berita Meninggalnya Tokoh Agama Di Tigaraksa Tidak Benar

Tangerang

Camat Rahyuni : Berita Meninggalnya Tokoh Agama Di Tigaraksa Tidak Benar
Murottal Al-Qur’an 30 Juz Oleh Syaikh Mishari Rashid Alafasy

Info

Murottal Al-Qur’an 30 Juz Oleh Syaikh Mishari Rashid Alafasy

Tangerang

Puk KSPSI : Perundingan Buruh Terkait THR PT Total Tape Indonesia Di Duga Di Pimpin Anggota Polisi

Tangerang

Bentuk Kepedulian, Tiga Ormas Berikan Bantuan Di Desa Jenggot Kecamatan Mekarbaru