Aceh

Jalan Masuk Alur Mentawak Sangat Memprihatinkan, Warga Harap Pemerintah Peka

×

Jalan Masuk Alur Mentawak Sangat Memprihatinkan, Warga Harap Pemerintah Peka

Sebarkan artikel ini
Jalan Masuk Alur Mentawak Sangat Memprihatinkan, Warga Harap Pemerintah Peka. [Foto Syawaluddin Ksp | mediaaceh.
Jalan Masuk Alur Mentawak Sangat Memprihatinkan, Warga Harap Pemerintah Peka. [Foto Syawaluddin Ksp | mediaaceh.

“Jika musim penghujan tiba, kami bagaimana terperangkap di dalam desa ini, tidak bisa keluar dan masuk, sebab jalannya licin dan berlubang lumpur. Derita ini puluhan tahun lalu hingga kini, terus kami rasakan,” jelas Datok Penghulu [Kepala Desa] Desa Alur Mentawak, Jajang, pada wartawan, Rabu, 28 Mei 2025.

SWARA45.COM, KUALASIMPANG – Kampung Alur Mentawak, letaknya ada di kawasan Timur Aceh, tepat berada di perbatasan provinsi Aceh – Sumatera Utara.

AKRILIK/PAPAN TANDA CETAK UV
deskripsi
AKRILIK/PAPAN TANDA CETAK UV

Hasil pemekaran tiga Kampung di Aceh Tamiang, tahun 2022 lalu. Dengan kode Desa nomor 1116062021, kini Alur Mentawak sudah tercatat di lembaran negara.

Desa Alur Mentawak baru dua tahun ini, mengelola Alokasi Dana Desa (ADD), kisarannya hanya Rp832 juta [2024 – 2025].

Dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) sebesar 512, Desa ini terbagi menjadi empat Dusun 4 [Dusun Mentawak 1, 2, 3 dan Dusun Inpres] Jumlah jumlah penduduknya lebih kurang 2400 jiwa.

SANGAT MEMPRIHATINKAN

Akses masuk ke Desa Alur Mentawak hanya 10 persen saja terbilang bagus, 90 persen lagi masih jalan tanah.

“Jika musim penghujan tiba, kami bagaimana terperangkap di dalam desa ini, tidak bisa keluar dan masuk, sebab jalannya licin dan berlubang lumpur. Derita ini puluhan tahun lalu hingga kini, terus kami rasakan,” jelas Datok Penghulu [Kepala Desa] Desa Alur Mentawak, Jajang, kepada wartawan, Rabu, 28 Mei 2025.

Jajang menyebut, padahal komoditi andalan Desa Alur Mentawak diperoleh dari sektor Pertanian dan Perkebunan.

Yang menyakitkan, sebut Jajang. Saat mereka berjuang mengeluarkan hasil komoditinya dari wilayah Desa Alur Mentawak, disamping harus berjibaku dengan lumpur saat musim hujan, mereka harus mengeluarkan kocek untuk membayar retribusi pajak jalan via kabupaten Langkat.

“Kalau kita keluar melalui Aceh Tamiang, kita harus memutar jalan dan sangat jauh. Mana lagi jalannya hancur. ‘Untuk mempersingkat waktu, kita harus lalui akses keluar via Langkat, itu yang tercepat. Tetapi harus membayar upeti [pajak],”beber Jajang.

PEMERINTAH  HARUS PEKA

Kecuali itu, papar Jajang. Masyarakat berharap perhatian dan kepekaan Pemerintah Aceh Tamiang untuk membangun pengerasan badan jalan di Desa Alur Mentawak.

Agar akses keluar masuk tidak lagi via Kabupaten Langkat, “jika terjadi sangat menguntungkan, terutama bagi desa dan pemerintah Aceh Tamiang.

Sebab keluar masuk hasil komoditi melalui jalan sendiri, tidak lagi menumpang via Langkat. “Ini kan menguntungkan daerah, bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor pertanian.

“Harapan kami, pemerintah Aceh Tamiang peka pada wilayah kekuasaannya, terutama itu, untuk memajukan daerahnya. Padahal saat Pemilukada lalu, 93 persen suara pemerintah yang menang hari ini,”ucap Jajang.

Masyarakat juga menunggu bantuan semen sebanyak 500 sak, untuk bantuan pembangunan Mesjid Nurul Ukuwah di Desa Alur Mentawak, permohonan bantuan saat itu di layangkan melalui surat Badan Kemakmuran Mesjid (BKM).

“Sebab itu pernah dijanjikan, namun sampai saat ini belum juga terealisasikan. Kami juga sangat berharap ada kantor Datok Penghulu yang refresentatip agar administrasi desa berjalan secara optimal,” jelas Jajang.

CSR NIHIL

Sebut Jajang lagi, selama Desa Alur Mentawak terbentuk 2022 lalu, pihaknya pernah mengajukan surat bantuan batu kerikil, untuk menyiram badan jalan yang rusak parah kepada PT. Semadam melalui dana Cooperate Social Responsibility (CSR).

Namun sampai saat ini jangankan seperti yang diminta, satu butir batu kerikil pun, pihak Desa tidak menerimanya.

Padahal, hampir sebagian penduduk Desa Alur Mentawak bekerja di PT. Semadam.

“Sebagian besar masyarakat di sini bekerja di PT. Semadam. Berarti penduduk di sini ini kan orangnya PT. Semadam Juga, bukan orang lain, seyogianya harus juga mendapat perhatian,” kata Jajang.[Afrizal]

Berikan Komentar