Berita

Eli Sahroni “King Badak”: Dari Pena Perlawanan Menuju Gerakan Strategis Membangun Kesadaran Baru Rakyat Banten

×

Eli Sahroni “King Badak”: Dari Pena Perlawanan Menuju Gerakan Strategis Membangun Kesadaran Baru Rakyat Banten

Sebarkan artikel ini

sWara45|Lebak – Bagi H. Eli Sahroni, pergerakan bukan sekadar teriak di jalanan atau duduk di kursi kekuasaan. Bagi pria yang dikenal dengan julukan “King Badak” itu, pergerakan adalah ilmu, strategi, dan taktik — sebuah jalan panjang yang menuntut konsep, kesadaran, serta keberanian untuk berpihak pada rakyat.

“Pergerakan itu bukan tentang politik praktis, tapi tentang bagaimana kita membangunkan kesadaran rakyat agar berdaulat secara ekonomi, sosial, dan moral,” ujar Eli Sahroni kepada Swara45.com di Rangkasbitung, Rabu (8/10/2025).

AKRILIK/PAPAN TANDA CETAK UV
deskripsi
AKRILIK/PAPAN TANDA CETAK UV

Eli bukan sosok baru di dunia sosial. Ia ditempa dalam masa genting sejarah bangsa — krisis moneter dan kejatuhan rezim Soeharto pada 1998. Saat itu, ia merupakan jurnalis muda di harian nasional Sentana, yang dikenal dengan tulisan-tulisannya yang tajam dan kritis terhadap praktik korupsi serta ketimpangan sosial.

“Jurnalistik mengajarkan saya membaca gejala zaman. Dari situ saya belajar bahwa perlawanan tanpa arah dan konsep hanya akan menjadi riuh tanpa hasil,” tuturnya.

Dari ruang redaksi dan dinamika jalanan itu, kesadaran strategis Eli terbentuk — bahwa setiap perubahan sejati harus berakar pada pemahaman, bukan sekadar semangat.

Membangun Gerakan Konseptual

Menutup kariernya di dunia pers, Eli memilih jalan baru: membangun gerakan sosial yang strategis dan sistematis. Sebagai Ketua Umum Ormas Badak Banten Perjuangan, ia memadukan analisis, aksi, dan advokasi berbasis masyarakat kecil.

“Kami tidak bergerak spontan. Semua harus berdasarkan kajian, strategi, dan taktik. Gerakan tanpa konsep hanya akan lelah sendiri; gerakan tanpa strategi hanya akan sia-sia,” tegasnya.

Melalui ormas yang dipimpinnya, Eli membangun model pergerakan berbasis data dan konsep: mengidentifikasi persoalan masyarakat, merumuskan langkah sistematis, serta mendorong aksi kolektif yang berdampak nyata.

Gerakan dengan Konsep, Bukan Kepentingan

Eli menegaskan bahwa gerakan yang ia bangun bukan kendaraan politik, melainkan wadah pendidikan sosial dan pembentukan kesadaran kritis masyarakat.

“Saya tidak tertarik menjadi calon kepala daerah. Kalau perjuangan hanya diukur dari jabatan, itu bukan gerakan — itu ambisi.
Gerakan sejati adalah tentang konsep, nilai, dan kesetiaan terhadap perubahan yang nyata,” ujarnya tegas.

Bagi Eli, pergerakan ibarat “medan strategi” harus ada taktik, arah, dan momentum yang tepat untuk menembus kemapanan yang menindas rakyat.

Dari Pena ke Strategi Perubahan

Kini, perjuangan Eli tidak lagi ditulis dengan tinta, melainkan digerakkan melalui aksi nyata di lapangan.

“Saya tidak bergerak untuk politik, tapi untuk sistem berpikir rakyat. Kalau rakyat sadar, perubahan akan datang dengan sendirinya tanpa harus menunggu pemimpin,” tutupnya.

Membangun Kesadaran dan Kemandirian

Dalam beberapa tahun terakhir, Eli bersama Badak Banten Perjuangan telah mengembangkan berbagai program strategis — mulai dari bedah rumah bagi warga miskin, penguatan ekonomi mandiri, hingga pendidikan diniyah dan literasi sosial.

Bagi Eli, program-program itu bukan seremonial, melainkan eksperimen lapangan untuk membangun model pergerakan konseptual yang bisa direplikasi oleh masyarakat.

“Pergerakan harus punya basis ilmiah. Kalau tidak, kita hanya jadi reaksi sesaat, bukan perubahan jangka panjang,” ujarnya.

“King Badak”: Filosofi Keteguhan dan Ketenangan

Julukan “King Badak” bukan sekadar simbol kekuatan, tetapi cerminan keteguhan dan daya tahan dalam menghadapi tekanan. Eli menggunakan simbol itu sebagai spirit moral: kuat dalam tekanan, tenang dalam badai, dan fokus pada arah perjuangan.

“Badak itu tidak menyerang duluan, tapi kalau dilawan, dia tidak mundur. Begitu juga pergerakan ini — tidak mencari musuh, tapi tidak akan tunduk pada ketidakadilan,” pungkasnya dengan nada tegas dan tenang.

(DEDI)

 

Berikan Komentar