sWara45 | TANGERANG — Semangat untuk membangkitkan kembali wajah Balaraja mulai menguat dari masyarakat. Forum Masyarakat Peduli Balaraja (FMPB) menginisiasi pertemuan bersama berbagai organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat dan para sepuh Balaraja untuk menyatukan visi serta langkah dalam mendorong perubahan kawasan Eks Terminal Balaraja atau yang kini dikenal sebagai Pasar Segitiga Balaraja, Minggu (30/8/2026).
Pertemuan tersebut menjadi bentuk kepedulian masyarakat sekaligus upaya membangun gerakan dari bawah atau bottom up. Berbagai elemen yang hadir menilai kondisi Pasar Segitiga Balaraja membutuhkan perhatian dan penataan yang lebih serius, mengingat kawasan tersebut memiliki posisi strategis namun belum berkembang secara optimal.
Sejumlah organisasi kemasyarakatan turut hadir dalam pertemuan tersebut, di antaranya Pemuda Pancasila (PP), LMPI, Satria Banten/PPBNI, BPPKB Banten, LMP, Badak Banten, Satgas Banten TTKKDH, LAPBAS hingga GRIB. Kehadiran berbagai organisasi tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap masa depan Balaraja tidak hanya datang dari satu kelompok, tetapi mulai menjadi kepedulian bersama.
Pasar Segitiga Balaraja, yang sebelumnya dikenal sebagai kawasan Eks Terminal Balaraja, disebut telah mengalami kondisi yang belum berkembang optimal selama kurang lebih 25 tahun. Lamanya persoalan tersebut menjadi perhatian masyarakat karena kawasan tersebut dinilai memiliki potensi ekonomi dan sosial yang besar apabila ditata serta dikembangkan secara terencana dan berkelanjutan.
Di kawasan itu juga terdapat sekitar 30 pedagang yang disebut telah memiliki kontrak atau menempati kios. Para pedagang berharap adanya kepastian dan pembenahan kawasan agar kegiatan perdagangan dapat berjalan lebih baik serta memberikan kenyamanan bagi pedagang maupun masyarakat.
Masyarakat turut menyoroti kondisi lingkungan dan infrastruktur kawasan. Sejumlah bagian dinilai masih membutuhkan pembenahan, kebersihan perlu ditingkatkan, sementara kondisi kawasan yang kurang tertata serta persoalan bau menjadi bagian dari keluhan yang berkembang di tengah masyarakat.
Inisiator sekaligus pimpinan FMPB, Dodi Farrurozi, menegaskan bahwa pertemuan tersebut bukan gerakan untuk kepentingan organisasi tertentu. Menurutnya, seluruh elemen yang hadir dipertemukan oleh satu kepedulian, yakni keinginan melihat Balaraja berkembang dan memiliki masa depan yang lebih baik.
“Ini bukan gerakan satu kelompok dan bukan untuk kepentingan pribadi. Kita berkumpul karena memiliki kepedulian yang sama. Semua bergerak atas nama Balaraja dan untuk masa depan masyarakat Balaraja,” ujar Dodi.
Dodi mengatakan, perubahan membutuhkan kebersamaan dan keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Karena itu, FMPB berupaya membangun komunikasi dengan organisasi, tokoh masyarakat, para sepuh serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap Balaraja.
“Bareng-bareng urang kabehan. Sudah terlalu lama Balaraja seperti tertidur. Sekarang waktunya kita bangun, duduk bersama, menyatukan gagasan dan bergerak bersama untuk perubahan,” tegasnya.
Dukungan terhadap gagasan tersebut disampaikan salah seorang sepuh Balaraja, Abah Engkos Kosasih atau Abah Kosasih. Ia mengatakan, gagasan mengenai perubahan kawasan Pasar Segitiga Balaraja bukan hal baru. Menurutnya, aspirasi tersebut telah beberapa kali disampaikan melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), namun masyarakat masih menantikan langkah nyata.
“Saya sudah beberapa kali membawa dan menyampaikan gagasan perubahan kawasan ini, termasuk melalui Musrenbang. Kurang lebih sudah empat kali. Karena itu, saya sangat mendukung ketika sekarang masyarakat dan berbagai elemen mulai bersatu. Kalau kita bergerak bersama, suara masyarakat tentu akan semakin kuat dan pemerintah bisa melihat bahwa ini memang kebutuhan bersama,” kata Abah Kosasih.
Sementara itu, AKP (Purn) Akhmad Suryadi, yang akrab disapa Amak, menilai penyatuan berbagai elemen masyarakat merupakan langkah positif selama dilakukan dengan semangat kebersamaan dan kepentingan pembangunan daerah.
“Yang paling penting adalah bagaimana semua pihak memiliki niat baik untuk Balaraja. Kalau tokoh masyarakat, para sepuh, organisasi dan masyarakat bisa duduk bersama, tentu akan lahir kekuatan yang positif. Perubahan harus dibangun dengan sinergi, komunikasi dan kebersamaan,” ungkapnya.
Dukungan serupa disampaikan AKBP (Purn) H. Fahrudin. Menurutnya, kepedulian berbagai elemen masyarakat terhadap kemajuan daerah merupakan modal sosial yang penting.
“Saya mendukung setiap langkah positif yang lahir dari masyarakat untuk kemajuan Balaraja. Yang terpenting adalah tetap menjaga persatuan, mengedepankan musyawarah dan membangun komunikasi yang baik dengan pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan. Jika semua memiliki niat yang sama, perubahan tentu lebih mudah diwujudkan,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, salah satu gagasan yang mengemuka adalah mendorong kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Tangerang, masyarakat, sektor swasta dan kalangan industri yang berada di Balaraja. Kawasan Pasar Segitiga Balaraja diharapkan dapat ditata dan dikembangkan menjadi sentra kuliner Balaraja yang representatif, sekaligus membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat dan pelaku UMKM.
Selain memiliki potensi ekonomi, masyarakat menilai Balaraja juga mempunyai kekayaan sejarah dan budaya yang dapat menjadi bagian dari pengembangan kawasan. Potensi tersebut antara lain sejarah Tangsi, Pasar Belanda atau Pasar Segitiga Balaraja, posisi Balaraja sebagai wilayah penghubung berbagai daerah, sejarah pendidikan dan sekolah guru, jejak pemerintahan, hingga seni dan budaya masyarakat.
Potensi tersebut dinilai dapat menjadi fondasi dalam membangun semangat “Balaraja Hebat Jasa”, yakni upaya membangun Balaraja dengan tetap menghargai sejarah sekaligus mengembangkan potensi ekonomi, sosial dan budaya untuk masa depan.
FMPB bersama berbagai elemen masyarakat berharap pertemuan tersebut menjadi awal dari komunikasi yang lebih luas dengan Pemerintah Kabupaten Tangerang dan para pemangku kepentingan. Aspirasi masyarakat diharapkan dapat dibahas melalui mekanisme yang konstruktif dengan mempertimbangkan tata ruang, kondisi kawasan, kepentingan pedagang, kebutuhan masyarakat, potensi ekonomi serta aspek seni dan budaya.
Bagi masyarakat, persoalan Pasar Segitiga Balaraja bukan semata-mata mengenai bangunan atau aktivitas perdagangan. Kawasan tersebut dipandang sebagai bagian dari wajah Balaraja yang membutuhkan arah pengembangan yang jelas agar potensinya dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.
Pertemuan itu sekaligus menegaskan bahwa gagasan membangkitkan Balaraja mulai mendapatkan ruang dari berbagai elemen. Dengan semangat “Bareng-bareng urang kabehan”, FMPB mengajak seluruh unsur masyarakat untuk menyatukan gagasan, membangun komunikasi dan mendorong perubahan tanpa membawa kepentingan kelompok.
Masa depan Pasar Segitiga Balaraja kini diharapkan tidak lagi berhenti sebagai persoalan yang berulang dibicarakan, tetapi dapat diarahkan menjadi agenda bersama melalui dialog, perencanaan dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. (DEDI)

